katakanlah disini kita sebagai manusia yang lahir dengan mengenyam kurang lebih 26 tahun kehidupan yang kadang dan sering kali, sengaja atau tidak sengaja entah sebenarnya mengerti a
tau tidak dengan aturan kewajiban agama. mungkin kita hanya melakukan kewajiban tersebut berdasar kepada orang tua pembawa asal agama tersebut atau sekolah tertentu yang mewajibkan jadwal keagamaannya sehingga otomatis kita pun melakukan aturan kewajiban agama kita berdasar pada pola tersebut, tanpa tau jiwa kita merasakan untuk apa hal - hal kewajiban dalam agama itu dilakukan secara continued, sedangkan yang kita tau apabila kita missed melakukan kewajiban agama tersebut kita tau akan pinalti yang ditanggung yang lebih sering disebut DOSA.
tau tidak dengan aturan kewajiban agama. mungkin kita hanya melakukan kewajiban tersebut berdasar kepada orang tua pembawa asal agama tersebut atau sekolah tertentu yang mewajibkan jadwal keagamaannya sehingga otomatis kita pun melakukan aturan kewajiban agama kita berdasar pada pola tersebut, tanpa tau jiwa kita merasakan untuk apa hal - hal kewajiban dalam agama itu dilakukan secara continued, sedangkan yang kita tau apabila kita missed melakukan kewajiban agama tersebut kita tau akan pinalti yang ditanggung yang lebih sering disebut DOSA.
Dosa, sejauh mana kah kita melihat dan memaknai dosa diumur produktif ini ( baca line awal ). apakah menyeramkan? Se menyeramkan kiriman uang saku orang tua habis sebelum waktunya? Se menyeramkan tagihan kartu kredit mencapai 70% dari penghasilan anda? Atau apakah dosa se menyeramkan teman se geng akan yang akan bersosialita tapi benda di dompet yang terlihat hanya kartu identitas, ataukah se menyeramkan kekasih hati meninggalkan anda dengan rentetan alasan klasik percintaan? However mungkin kalian lebih tidak memilih kondisi yang saya jabarkan diatas dari pada takut akan dosa itu sendiri yang tampaknya memang tidak terlihat nyata tapi itu adalah mutlak adanya.
namun perjalanan religi orang pastinya berbeda beda, ada yang sudah mahir memaknai agamanya sendiri adapula yang lebih memilih pindah agama demi ketenangan jiwa masing masing ataupun sederet alasan lain yang bisa kita temukan di pelbagai kehidupan ini. anggap saja kita pada usia produktif ini lebih memilih dosa daripada berada di keadaaan menyeramkan yang dicontohkan diatas, hhmmm bukan,bukan memilih dosa sih sebenarnya kata yang tepat yakni mengabaikan dan menganggap dosa itu hal yang tidak menyeramkan daripada kondisi tersebut.
okey,diam pada situasi tersebut. ternyata sang pemilik kehidupan berkehendak beda ternyata si empunya umur produktif ini berada dalam titik dimana dulunya kewajiban dalam agama tersebut dianggap hanya sebagai minyak goreng jika hendak menggoreng menjadi semacam penetralisir segala penyakit. kagum dia dibuatnya, sebuah fase kehidupan yang bisa dibilang naik kelas ataupun naik pangkat. apa mungkin berada di fase kehidupan ini dia harus melewati beberapa kubangan yang dibuat si pemilik kehidupan? tak pernah merasakan setenang dan sepasrah ini pada hidup walaupun berada pada kondisi menyeramkan diatas, dia yakin pada sang pemilik kehidupanlah dia berpulang. mempasrahkan segalanya pada pemilik kwhidupanlah dimana tepatnya dia memberi hati pada lawan jenisnya. merasa melakukan 5 waktu sebagai kebutuhan Rohaniahnya bukan lagi menyepelekannya.